26 Oktober 2014

KETIKA 'KACANG LUPA DENGAN KULITNYA'

Assalamualaikum,



Dia dulu adalah sebuah kacang. Kacang yang selalu bersama kami, selalu menemani hari-hari kami, dan juga selalu bisa membuat kami semua bahagia. Bahkan bukan hanya dia, tapi kami kami berlima adalah sebuah kacang yang masih diselimuti oleh sebuah kulit yang 'asin' rasanya. Tapi, mungkin kisah itu hanyalah sebuah dongeng dimasa kecil. Dimana saat itu, kami berlima masih tidak mengerti apa-apa dan bahkan tidak berani untuk melepas kulit yang 'asin' jika dirasa. Ya... tapi itu mungkin hanyalah dongeng dimasa kecil...

Sekarang tahun sudah beranjak menjadi 2014, dimana kacang yang dulu masih 'anak ingusan' sekarang sudah menjadi 'anak pemberani'. Dia sudah paham akan masa modern saat ini, dia juga sudah mengerti bagaimana cara hidup dimasa global yang keras jika dikata orang betawi. Dia sudah berani melangkah sendiri, maju digaris depan dengan beraninya dan hanya bermodal 2 tangan dan 2 kaki, serta tekad yang kuat dari dalam jiwanya. Dia bahkan tidak takut akan rintangan dan hadangan yang keras dijalur keberaniannya. Dia juga dengan lantang mengatakan 'Besar kecil hadangan didepan, saya berani melawan! Karena saya bukan lagi kacang yang harus di selimuti oleh sebuah kulit yang 'asin''.

Semenjak dia melontarkan kalimat keras itu, perlahan-lahan dia berani terus melangkah maju kedepan tanpa menengok sikit kebelakang. Seolah-olah dia hanya melihat cahaya putih baru dan berusaha keluar dari lingkaran gelap 'kebosanan' selama ini yang 'mungkin' dia rasakan. Dan juga seolah-olah kami juga merasakan kehilangan dengan 'langkah keberaniannya' yang terus menerus maju kedepan.

Waktu demi waktu terus berjalan, Dia si 'kacang' yang dulu kami kenal selalu bersama, kini sudah jarang dan bahkan sudah tak terlihat lagi. Mungkin dia sudah sampai ke 'cahaya putih' yang diimpikannya? atau mungkin dia tersesat di tengah jalan dan menghilang? Entahlah, yang jelas kami tidak tahu pasti. Tapi sebagai seorang sesama 'kacang' kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

Dan pada suatu hari yang cerah, kejutanpun terjadi. Dia, si 'kacang' yang kami rindukan asik berjalan berdua dengan seorang wanita yang elok ditengok dan bahkan Dia si 'kacang' sudah tidak mengenakan kulit yang 'asin'. Dengan wajahnya yang senang dan cerah dia melihat jelas kami. Apa yang terjadi? Dia hanya memberikan senyuman manis yang mungkin mempunyai arti 'kosong' bagi kami. Hanya sebuah senyuman, senyuman dan senyuman. Hanya itu yang dia berikan untuk kami yang sangat jauh merindukannya. Entah apa yang dia rasa saat itu, tapi yang kami bisa lakukan hanyalah membuat sebuah senyuman balik untuknya.

Semenjak hari itu, itulah pertemuan terakhir kami dengannya. Kami kehilangan 1 'kacang' yang sangat berharga nilainya. Ber-empat, ya kami hanya tinggal ber-empat. Satu 'kacang' telah gugur dan sudah melepas 'kulitnya'. Hanya rasa sangat kehilangan yang kami bisa rasakan. Satu lingkaran kebersamaan yang sudah kami berlima buat sejak 'anak ingusan', kini sudah Dia tinggalkan dan berlalih kesebuah lingkaran baru yang mungkin menjadi impiannya. Entah kapan Dia akan pulang kerumah aslinya. Atau mungkin takan pernah pulang? Entahlah, yang jelas sekarang Dia sudah mendapat kesenangan baru dan suasana perkumpulan baru.

Mungkin bagi kami, Dia hanyalah sebuah 'Kacang yang lupa Kulitnya'. Lupa dengan masa lalu, dan lupa dengan semua cerita-cerita yang pernah kita buat bersama. Ya, dia.. dia.. dan dia.. hanyalah sebuah 'Kacang yang lupa Kulitnya' sebuah, 'Kacang yang lupa Kulitnya'......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar